12 Juli 2012

Word today.....

.....sulit untuk ucapkan selamat tinggal pada dia yang kamu cinta, tapi lebih sulit lagi ketika kenangan bersamanya tidak akan hilang begitu saja.....

18 Juni 2010

Percayakan Padaku


Saat mata terhalang oleh malam

Tidur dan berkembanglah

Saat pagi kembali menari

Datanglah dengan hati


Bila kau ragu pada impianmu

Percayakan padaku

Jalan hidup yang akan engkau tempuh

Percayakan padaku



Tumbuhlah jadi pendampingku

Seiring malam yang menjemput senja

Kekasih percaya padaku

Kau nyata tercipta ’tuk di sampingku


Kau takkan pernah tahu apa yang kau miliki

Hingga nanti kau kehilangan

Maka jangan pernah tinggalkan aku

Kekasih oh kekasih

Lagu untukmu oh kekasih

29 Agustus 2008

Jiwa Yang Menderita

Tidak ada pengembala manusia di padang yang indah ini,
juga tidak ada domba untuk digembalakan ataupun hati untuk dilukai.

Musim dingin pergi dengan pakaiannya
dan musim semi harus datang dengan kebanggaan.

Orang-orang dilahirkan sebagai budak,
dan oleh tirani..,jiwa mereka di robek-robek.

Kemanapun pemimpinnya pergi,
kesitu pulalah pengikutnya,
dan terkutuklah dia yg menolaknya.

Berikan aku seruling dan biarkan aku bernyanyi,
dan melalui jiwaku biarlah musik mengalun.

Nyanyian seruling lebih agung daripada kejayaan raja-raja dari segala jaman.

Panggung Kehidupan

Satu jam yang dihabiskan untuk mencari keindahan dan cinta,
sama nilainya dengan satu abad kejayaan,
yang diberikan oleh mereka yang lemah, dan ketakutan kepada yang kuat.

Selama satu jam itulah manusia mendapatkan kebenaran,
dan selama satu abad itulah,
kebenaran terlelap didalam pelukan mimpi buruk yang menggelisahkan.

Selama satu jam itu, jiwa menyaksikan sendiri hukum alam,
dan selama satu abad itu, jiwa memenjarakan dirinya dibelakang tirai hukum manusia,
dan diikat dengan rantai besi penindasan.

Selama satu jam itu, muncul lah gagasan atas nyanyian keindahan,
dan selama satu abad itu muncul lah kekuatan buta,
yang menghancurkan berhala kemunafikan.

Selama satu jam itu lahirlah khotbah kebersamaan,
dan selama satu abad itu hancurlah istana perceraian.

Selama satu jam itu turunlah wahyu kebebasan,
dan selama satu abad itu dilupakanlah kekuasaan,
kebesaran dan kemerdekaan.

Satu jam yang dihabiskan untuk meratapi dan menyesali keadilan yang dirampas
dari yang lemah, lebih berarti dari pada satu abad yang penuh dengan ketamakan,
serta perebutan kekuasaan.

Selama satu jam seperti itulah, hati dimurnikan oleh nyala api penderitaan,
dan diterangi oleh cahaya api cinta.
Dan selama satu abad seperti itulah, hasrat akan kebenaran,
dikubur dalam-dalam didasar bumi khayalan.

Inilah kehidupan,
yang dipotret dari panggung zaman demi zaman,
yang direkam langsung dari abad ke abad,
yang dihidupi dalam pengasingan tahun demi tahun,
yang dinyanyikan sebagai himne dari hari ke hari,
yang diagungkan tetapi hanya dalam satu jam,

tetapi bagi keabadian satu jam itu adalah sebuah permata..

Indahnya Kematian

Biarkan daku terlelap,
karena jiwaku sedang dimabuk cinta,
dan biarkan daku beristirahat,
karena rohku telah kenyang dengan karunia cinta sepanjang hari
Nyalakan lilin dan bakarlah dupa didekat pembaringanku,
taburi tubuhku dengan bunga melati dan mawar,
olesi rambutku dengan setanggi,
percikkan kakiku dengan wewangian,
dan bacalah suratan penguasa maut dikeningku.
Biarkan aku terlelap didekapan kegelapan,
karena mataku telah letih terjaga.
Biarkan harpa berdawai perak,
menggetarkan dan menenangkan sukmaku,
rajutlah tirai untuk hatiku yang gundah,
dari denting-denting harpa dan kecapi.
Senandungkan nyanyian masa lalu,
saat kau saksikan fajar harapan merekah dimataku,
karena makna ajaibnya adalah tilam empuk,
tempat hatiku bersemayam.
Hapuslah air matamu, kekasihku,
tegakkan kepala bagaikan bunga-bunga,
mengangkat mahkotanya untuk menyambut fajar.
Tataplah mempelai kematian yang bagaikan tiang cahaya,
berdiri diantara pembaringanku.
Tahan nafas sejenak,
dan mari dengar bersama desiran kepak sayap putihnya.
Mendekatlah dan ucapkan salam perpisahan,
tatap mataku dengan senyuman tersungging dibibir.
Biarkan anak-anak menggenggam tanganku,
dengan jemari mereka yang lembut dan merah merona.
Biarkan orang-orang tua mengelus kepalaku dan memberkatiku.
Biarkan anak-anak gadis mendekat,
dan menyaksikan bayangan kerinduan di mataku,
dan mendengarkan gema kehendak sang maut berpacu dengan desah nafasku.

Puncak gunung telah kulalui dan jiwaku telah membumbung tinggi,
ke cakrawala kebebasan yang luas dan tiada bertepi.
Wahai kekasih, aku sudah jauh sekali,
dan mendungpun menyembunyikan perbukitan dari penglihatanku.
Lembah-lembah tergenangi lautan kesunyian,
dan ketidaksadaran diri menelan jalan-jalan kebahagiaan.
Ladang dan padang-padang rumput lenyap dibalik bayangan putih,
tampak sebagai awan musim semi,
kekuning-kuningan seperti cahaya lilin,
merah merona seperti senjakala temaram....
Nyanyian gelombang dan himne sungai-sungai membahana,
dan suara gerombolan orang berubah menjadi kesunyian.
Tiada lagi yang kudengar kecuali musik keabadian,
sangat selaras dengan hasrat jiwa.
Aku berbusana putih seperti salju,
kurasakan kelegaan, kurasakan kedamaian...
Lepaskan kafan linen putih dari jasadku,
dan kenakanlah bunga-bunga melati dan bakung sebagai busanaku.
Angkatlah tubuhku dari peti khayalan,
dan biarlah bersemayam diatas bantal bunga keceriaan.
Jangan meratapi diriku,
tapi nyanyikanlah lagu-lagu bocah remaja nan ceria.
Jangan tangisi diriku,
tapi nyanyikanlah lagu musim panen keindahan.
Jangan berduka cita atas diriku,
tapi pandanglah wajahku dengan kebahagiaan.
Mainkan nada-nada cinta dan kegembiraan dengan jari-jari lentikmu.
Jangan usik ketenangan suasana dengan nyanyian dan doa kematian.
Biarkan hati kalian menyanyikan kidung kehidupan abadi bersamaku.
Jangan kenakan pakaian berkabung berwarna hitam,
pakailah busana berwarna-warni dan bergembiralah bersamaku.
Jangan lepas kepergianku dengan keluh kesah hati,
pejamkan matamu, maka akan engkau saksikan kebersamaan kita,
untuk selama-lamanya.
Baringkan tubuhku diatas tumpukan dedaunan,
dan usunglah daku dibahumu yang meringankan dosaku,
dan berjalanlah perlahan menuju hutan kesunyian.
Jangan semayamkan tubuh hinaku di perkuburan yang berjejal,
agar tidur abdiku tidak terganggu oleh gemeretak tulang dan tengkorak.
Bawalah aku ke hutan keabadian dan gali lah kuburku ditaman bunga,
yang sedang bersemi dan saling membayangi keindahan.
Galilah kuburku cukup dalam, agar banjir tidak menyeret tulangku,
ke hamparan lembah tak bertuan.
Buatkan kuburku cukup lapang, agar senja temaram datang menghampiri,
dan bersanding bersamaku.
Tinggalkan segala pakaian duniawi ku,
semayamkan daku dalam-dalam ke rahim ibu pertiwi,
dan baringkan aku dengan penuh mesra,
dalam dekapan bunda.
Selimuti aku dengan bumi yang lembut,
dan biarkan tiap jemput tanah berbaur dengan biji bunga,
dan tatkala bunga-bunga itu bersemi diatas pusaraku,
dan tumbuh subur bersama sisa jasadku,
tanaman bunga itu senantiasa menghembuskan semerbak,
harum jiwaku ke udara.
menyampaikan kepada sang mentari rahasia damai dihati,
melayang bersama angin sepoi-sepoi dan menyegarkan sang musafir.
Lalu, tinggalkan aku kekasihku...,
tinggalkan aku dan berjalanlah pulang dengan tenang,
seperti kesunyian merayap dilembah sepi.
Pasrahkan daku kepada Tuhan dan pulanglah dengan tenang,
seperti bunga-bunga yang terserak oleh hembusan angin kesepian,
di bulan purnama yang terangi pembaringanku.
Kembalikan keceriaan ditempat tinggal hatimu,
maka akan kau temui aku disana,
apa yang dapat direnggut maut darimu dan dariku.
Tinggalkan tempat ini,
karena apa yang telah kau saksikan disini,
mengandung makna yang sangat berbeda dengan dunia fana.
Tinggalkan diriku....

Panggilan Sang Kekasih

Dimanakah engkau wahai kekasihku?
Apakah engkau berada di surga kecil itu,
menyirami bunga-bunga yang menatapmu,
bagai bayi yang menatap ibunya

Ataukah engkau berada di kamarmu,
tempat kuil keutamaan ditempatkan bagi kehormatanmu,
dan tempat engkau menempatkan hati dan jiwaku
sebagai korban persembahan cintamu

Ataukah diantara buku-buku,
mencari pengetahuan manusia,
sementara engkau dipenuhi kebijaksanaan surgawi.

Dimanakah engkau, wahai belahan jiwaku?
Apakah engkau sedang berdoa di kuil?

Ataukah engkah sedang mengunjungi alam di ladang,
tempat mimpi-mimpimu bersemayam?

Apakah engkau tengah berada di gubuk-gubuk orang miskin,
menghibur orang-orang yang patah hati dengan belas kasih jiwamu,
dan memenuhi tangan mereka dengan berkat?

Engkaulah roh cinta yang berada dimana-mana,
engkau lebih perkasa daripada abad dan masa.

Masihkah engkau ingat saat kita bertemu,
saat lingkaran cahaya jiwamu melingkupi kita,
dan para malaikat cinta melayang-layang,
sambil mengumandangkan lagu-lagu kasih sayang.

Masih ingatkah engkau saat kita duduk dibawah bayangan dahan-dahan,
yang melindungi diri kita dari serangan terik matahari,
sebagaimana tulang rusuk melindungi rahasia hati dari luka.

Masih ingatkah engkau jalan setapak dan hutan-hutan
yang kita lewat sambil bergandengan tangan dan saling menyandarkan kepala,
bagaikan dua jiwa dalam tubuh yang sudah menyatu?

Ingatkah engkau saat kuucapkan kata-kata selamat tinggal,
lalu kau berikan kecupan mesra dibibirku?

Ciuman itu, telah menyadarkan aku
bahwa dua bibir yang bertemu dalam cinta
mampu mengungkapkan rahasia-rahasia surgawi
yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Ciuman itu,
merupakan awal dari desah panjang yang amat dalam,
bagaikan nafas kehidupan saat mengubah tanah menjadi manusia.

Desah itu membuka jalanku menuju alam batin,
menyatakan kehormatan diriku,
tempat ia akan bertahan sampai kita berjumpa lagi.

Aku teringat saat kau menciumku...dan menciumku,
dengan air mata yang membasahi kedua pipimu,
dan engkau menyatakan,

“Tubuh duniawi harus sering berpisah untuk urusan duniawi,
dan terpaksa hidup terpisah karena tujuan duniawi.
Tetapi jiwa tetap bersatu dengan aman dalam cinta, sampai kematian menjemput
dan membawa kedua jiwa yang bersatu itu kembali ke Tuhannya”.

“Pergilah kekasihku,
karena cinta telah memilih engkau menjadi utusannya,
taatilah dia,
karena dia lah keelokan yang menawarkan kepada para pengikutnya
piala penuh kemanisan hidup.

Sedangkan bagi hatiku yang hampa,
cintamu akan tetap menjadi mempelai wanita yang menghibur,
dan kenangan tentang engkau akan menjadi pernikahan abadiku”.

Dimanakah engkau sekarang, diriku yang lain?
Apakah engkau terjaga dalam kesunyian malam?
Biarlah angin sepoi-sepoi segar menyampaikan kepadamu,
setiap detak jantung cintaku...

Apakah engkau masih membelai wajahku dalam bayanganmu?
Sesungguhnya, bayangan itu bukan lagi bayangan diriku,
karena derita panjang telah menimpa bayanganku,
pada wajah bahagiaku dimasa lalu.

Ratap dan tangis telah mengeringkan mataku,
yang memantukan kecantikanmu,
dan merusak bibirku yang telah dipermanis oleh...
ciumanmu.

Dimanakah engkau kekasihku...?
Apakah engkau mendengar tangisku dari seberang lautan?
Apakah engkau mengerti apa yang aku butuhkan?
Apakah engkau tahu besar dan dalamnya kesabaranku?

Adakah mahluk diangkasa yang bisa menyampaikan kepadamu,
sengal nafas orang muda yang sekarat ini?
Adakah yang bisa dilakukan oleh para pujangga,
untuk dapat menyampaikan padamu keluh kesahku?

Dimanakah engkau, bintangku yang elok?
Ketidakpastian hidup telah mencampakkan aku kedalam dasarnya,
derita yang telah menaklukkan aku.

Layangkanlah senyummu,
maka ia akan sampai padaku,
membangkitkan semangatku.

Sebarkan wangi tubuhmu,
maka ia akan menyangga hidupku.
Oh..., betapa besarnya cinta,
Dan betapa kecilnya diriku....